Covid-19 and The Rat Year 2020

By: Suhana Lim.

In the lead up to 2020, the whole world has been troubled by Covid-19. Starting from the health crisis then continues to be a deep financial crisis around the world, which is still happening right now.

2020 is the year of庚子 or Yang Metal Rat. Water is the fixed element of the Rat. One of the characteristics of the Water element is anxiety or worry or fear. This is a manifestation of the feeling we have all experienced since the outbreak of the pandemic. Metal is associated with the respiratory tract organs and Lungs. Covid-19 is a disease that attacks these organs.

People whose Metal element is weak will naturally be more susceptible to Covid-19. Having said this, it does not mean that those with strong Metal element can neglect to maintain health. Regardless of what the status of our Metal element in our ba zi (personal energy chart) is, maintaining personal hygiene and complying with all health protocols must still be done to minimize the risk of contracting Covid-19.

People whose elements of Water, Wood and/or Fire that are weak are more prone to psychological disorders. This is because various restrictions on social activity affect our mental health. It has been proven that since the pandemic and lockdown or social activities restrictions have been implemented, the level of stress, anxiety, depression and even suicide, divorce has increased!

Will this pandemic bring an apocalypse? Will it destroy human civilization? Well, to be honest I don’t have a crystal ball, and I’m not a psychic either. Having said that, from a feng shui perspective; as the energy of the Year of the Rat passes, all these glooms and dooms are likely to subside! The manifestation of this is especially with the nearing of the discovery of a vaccine for Covid-19.

I have shared all the above information several months prior to entering the 2020 Rat year to all my valued clients, and through many articles that I shared via social media. I am sharing this information again to those who haven’t read and to refresh the memory of those who have read it before.

May we all always be physically and mentally healthy!

On Earth As In Heaven


Oleh: Suhana Lim

In Heaven: the Beginning.
On Earth: the Spring.
In Human: phase from birth till adolescence.

Dalam skala yang paripurna, segalanya memiliki tiga realm. Alam dan dimensi Langit / spiritual, Dunia / fisik dan Manusia / kehidupan. Di dunia (bumi dan kehidupan manusia) seperti yang terjadi di Langit / surga. “your will be done on Earth as it is in Heaven” (Matthew 6:10).

Officially, hari ini di the Southern Hemisphere masuk ke musim Semi. Boleh dikata adalah periode yang banyak dinantikan oleh mayoritas orang. Warna warni aneka bunga bermekaran everywhere, suhu yang lebih hangat, cuaca yang lebih terang dan panjang, burung-burung pun lebih rajin berkicau. Menggantikan kebekuan hawa dingin dan gloomy weather during the past months. Traditionally, warna-warni Spring dalam busana pun lebih hidup dan bervariasi.

Manakala kehidupan kita sedang aktif-aktifnya, lagi positif-positifnya serba bright and colorful, fase ini adalah kategori “Spring time” nya kita. Kalau dikaitkan dengan usia biologis manusia, periode “musim Semi” terjadi pada saat dari kita lahir hingga usia remaja; saat dimana pertumbuhan fisik dan psikis lagi aktif dan kuat.

On Earth as is Heaven, di dunia (bumi dan kehidupan manusia) seperti yang terjadi di langit / surga. “your will be done on Earth as it is in Heaven” (Matthew 6:10).

Semoga kita semua lebih banyak berada dalam fase “Spring phase” hari ini dan setiap saat!🙏

Fenomena Halusinasi Dalam Bela Diri!


Oleh: Suhana Lim

Di Taiwan ada seorang juara bela diri yang menjadi korban penikaman menggunakan senjata tajam. Setelah ditangkap polisi, si pelaku mengungkapkan motivasi nya itu ialah agar dirinya menjadi juara satu / paling hebat. Jadi yang bersangkutan mau mencari cara tersingkat dan terefektif guna menjadi numero uno alias juara satu dalam dunia bela diri.

Insiden diatas adalah salah satu berita nyata yang pernah saya baca puluhan tahun lalu. Saya lupa itu juara Judo (atau aliran lain?), tidak inget pula apakah si juara akhirnya meninggal atau selamat setelah ditusuk? Kalau sekiranya ada pembaca yang memiliki info yang lebih akurat seputar insiden ini, silahkan berbagi dan atau mengoreksi saya kalau memori saya tidak tepat!

Dunia bela diri merupakan “panggung” yang penuh dinamika dan daya tarik. Sebuah komunitas, theater yang khas dan penuh hal-hal yang sangat menarik. Dan tentunya jangan lupa istilah Chinese yang mengistilahkan sebagai dunia “江湖” alias kangauw alias rimba persilatan! Sebuah dunia yang mayoritas komunitasnya terdiri dari sosok-sosok keras, dengan karakter-karakter yang menarik dan unik; sarat dengan solidaritas sekaligus semangat persaingan antara satu sama lainnya. Bahkan dalam sebuah lineage saja bisa terjadi rivalitas, apalagi antara aliran yang beda! Jadi hal ini adalah sebuah fenomena biasa sudah sejak ribuan tahun silam dan masih dirasakan hingga sekarang.

Belum lama ramai soal duel, yang terjadi di Tiongkok, antara pelaku bela diri modern dengan oknum praktisi bela diri tradisionil. Yang akhirnya menimbulkan pro kontra; dengan masing-masing pendukung membela jagoan nya masing-masing.

And recently, dunia 江湖 di Indo lagi ramai dengan kemunculan sosok oknum pendekar yang seakan memiliki kehebatan fisik yang diatas rata-rata. Yang bahkan Mas Oyama saja belum tentu sanggup melakukannya. Si oknum pendekar sanggup menghancurkan pilar beton, memiliki speed reflek yang fantastis yang bisa mengalahkan kecepatan desingan peluru; dan masih ada beberapa lagi kehebatan nya.

Mencermati fenomena-fenomena tadi tentu adalah kembali mengingatkan kita semua agar bisa lebih objektif, lebih realistis melakoni bela diri.

Masing-masing style, aliran punya cara nya masing-masing untuk menempa agar fisik bisa lebih kuat dan tahan. Makanya ada yang namanya teknik hojo undō (補助運動), tameshiwari (試し割り), 試切)tameshigiri, ngoki, hand and leg conditioning, dan aneka istilah lainnya.

Bahkan kita harus pula berani candid mengakui bahwa sebenarnya ada trik-trik khusus dalam melakukan demo pemecahan atau penghancuran benda keras. Jenis papan, potongan besi, batako, bata, dan lainnya adalah dari jenis tertentu. Bahkan cara memukulnya dan poin/sasaran nya pun ada kiat-kiat nya tersendiri. Sudah sejak as early as awal tahun 70an, salah satu old time favorit demo ialah memisahkan/memecahkan pantat botol (biasanya botol bir); nah ini pun ada trick tersendiri. Jadi as long as semua tradecraft nya kita pahami maka lebih mudah untuk mendemonstrasikan nya. Sehingga end result nya yakni mendatangkan decak kagum, tepuk tangan meriah dari para penonton pun bisa diperoleh!😅😉

Tak boleh dilupakan, dalam melakoni bela diri (berlaku pula bagi pelaku feng shui), IMHO terpenting kita bisa lebih realistik, lebih objektif. Betul dengan tekun dan rajin menempa diri, menggembleng fisik kita bisa istilahnya “do many wonders and tricks” yang tak semua orang bisa melakukannya. Having said that, tetap lah dalam batasan yang wajar, dalam norma yang realistik.

Ini mengapa adalah penting untuk bisa realistis, dapat membedakan antara yang only possible di dunia realita dengan yang dikisahkan di cersil, yang digambarkan di film bela diri. Kalau tidak bisa membedakan which is which hanyalah akan mengantarkan kita ke alam halu tingkat dewa/i saja! Ya, kalau buat ngebohongin orang yang awam kagak atau kurang paham seluk beluk dunia kangauw sih bisa-bisa dan boleh-boleh saja. Tetapi endingnya hanyalah akan membawa cibiran, candaan bagi diri sendiri setelah semua halu dan kebohongan kita terungkap oleh publik!

Di era penulis baru mulai berlatih, awal 70 an, waktu itu ada seorang oknum master yang sesumbar mengklaim bisa meremas logam / besi sampai hancur; yang kurang nyamannya juga membawa-bawa (baca: meremehkan seraya menjelekkan aliran kami). Itu mengapa kemudian oleh 师父 dan suheng serta sute-sute nya, si oknum master disambangi dan mempersilahkan nya untuk mendemokan kekuatan / kehebatan remasannya di tangan 师父!

Jangan lupa pula, untuk benar-benar bisa mengingat arti dari kata 功夫 / gōng fÅ« yang sesungguhnya, yakni “time and energy.” Jadi ada komponen “time” alias waktu. Kita belajar ilmu, mendalami ilmu adalah butuh pengorbanan waktu. Kalau mau instant adalah lebih sulit buat benar-benar bisa menguasai sebuah ilmu, meskipun mungkin kita adalah merasa diri atau beneran adalah “berbakat” belajar bela diri. Kalau mau instant maka gigit cabe saja, langsung berasa pedasnya! Untuk benar-benar mau sebuah teknik, jurus “meresap” kedalam darah daging dan otot kita tentu butuh waktu. Tanpa itu adalah cuma “merasa” sudah kuasai saja!

Jaman modern memang membuat kita semua maunya serba instant, termasuk dalam belajar bela diri. Unfortunately keinginan instant tidak mudah untuk menguasai sebuah bela diri yang sejati. Ya kalau kita mau merasa “sudah” bisa setelah beberapa kali latihan, atau mau merasa sudah “jago”setelah berlatih via nonton youtube, sih boleh-boleh saja. Namanya juga hak kita buat berimajinasi, buat halu, ya boleh-boleh saja.😂

Kalau kita belajar bela diri hanya untuk kehebatan memecahkan benda keras, maka salah jurusan. Lebih baik buka bisnis terima bongkar rumah / demolition (menghancurkan bangunan) yang bisa memberikan income. Ngapain pula bodoh merusak tangan dan atau anggota tubuh kita. Jika kita belajar bela diri hanya buat ngadu cepat dibandingkan kecepatan desingan peluru, lebih baik belajar kecepatan tangan untuk nyopet. Lebih kepake kalee (meski hal ini tidak dianjurkan)!

Objektivitas, logika, realita adalah penting, jangan melupakannya dalam kita mengembrace bela diri (dan banyak hal lain) dalam kehidupan nyata kita sehari-hari! Semoga kita semua senantiasa bisa sehat secara fisik dan psikis DAN tidak masuk alam halusinasi.🙏

Weak when You are Strong & Strong when You are Weak!


Oleh: Suhana Lim

Personally tak begitu fond of dengan alcoholic drinks. Biasa-biasa saja; palingan waktu kecil dulu dirumah kalau ada special occasions, menikmati 葡萄酒 (pu tao chiew). Belakangan juga “berinteraksi” dengan tuak, air nira yang penjualnya masih memakai potongan bambu besar sebagai tempat penampungan air niranya! Kalau diluaran ada perayaan atau acara makan-makan, menikmati Anker. Dari kenalan, juga jadi berkenalan dengan brem, dan cap Tikus.

Having said that, menikmati minuman beralkohol ya sekedar untuk sosial saja, bukan karena kepingin mabok. Hence, sedari dulu kalau lihat teman-teman dan atau orang yang seakan mengonsumsi alkohol biar / kepingin mabok; saya rasa gimana gitu. Apalagi kalau lihat yang tipe minum kagak seberapa, udah ngak keruan ocehan dan lagaknya. Istilah jaman dulu nya: “minum seperempat gelas, mabok nya seempang (kolam)!” Haiya, owe malu melihat attitude begitu.😅

Belakangan waktu kuliah, topik skiripsi ialah mengenai service di bar. Waktu itu yang menjadi subjek tulisannya ialah bar yang ada di hotel Horison di kompleks Ancol, Jakarta Utara.

Setelah selesai kuliah, exposure ke alkohol jadi lebih “intens and close.” Pasalnya kerja sebagai bartender di sebuah karaoke club di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Waktu itu agak norak, karena baru pertama kali melihat yang namanya alat berkaraoke. Jadi tempat kerja saya adalah sebuah bar and karaoke khusus buat expatriat Jepang. Hanya bagi warga Jepang saja yang bisa menjadi members. Pekerja nya of course orang lokal. Ownernya seorang wanita paruh baya berkebangsaan Jepang, kami memanggilnya “mama-san.” Bukan tidak mungkin, saat itu (awal tahun 80 an) tempat ini adalah karaoke bar yang pertama kali di Jakarta.

Hampir seluruh member adalah tenaga ahli, jajaran direksi di perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di Jakarta. Sebagai member mereka harus at least beli dua botol whiskey dan atau cognac untuk ditaruh di klub. Nah meski dalam tupoksi dan etika sebagai bartender, kita tidak dianjurkan buat menemani tamu minum; pada kenyataannya adalah sulit. Especially saat tamu nya sudah mulai “naik” alias mabok. Itu mengapa, setiap malam, selalu ended ikutan minum juga. Mama-san clearly tau, dan beliau tutup mata saja.

Gelas-gelas kristal yang dipakai di tempat kerja dari yang kualitas terbaik, hence adalah sebuah hiburan menarik manakala disaat-saat kepala sudah mulai “teng-tengan,” sambil minum ujung jari kita diputar-putarin di bibir gelasnya maka akan keluar suara mendengung yang merdu! Kadang juga dipaksa menemani tamu-tamu untuk berkaraoke; meski terus terang saya kagak bisa catch up karena rata-rata adalah lagu Jepang. Maklumlah taunya cuma lagu Kokoronotomo dan Amayadori saja!🙃

Setelah hampir dua tahun melakoni bartender, akhirnya karena kesehatan maka harus let go kerjaan, yang at that time memberikan gaji yang lumayan besar. Oleh dokter keluarga, saya dianjurkan untuk rubah profesi. Pasalnya at that time, Liver saya ada sedikit “hiccup.” Most likely karena lifestyle yang “kalong” dimana jam kerja mulai dari 5 sore sampai paling pagi jam 2 atau 3 pagi baru pulang. Mama-san termasuk sayang dan generous terhadap saya. Rutin memberikan “uang taxi” pulang meski kadang saya bawa motor ke tempat kerja. Tiap gajian pun selalu ada extra yang dikasihkan dalam amplop gaji. Inilah salah satu benefit jika di ba zi punya “Internal Flower” stars!

Since then, exposure ke alkohol menjadi berkurang jauh lagi. Dari yang setiap malam bergelimang dengan the best Cognac and or Whiskey menjadi cukup ber air putih, teh atau sesekali “lim” (“minum” dalam dialek Hokkian) kopi saja! Di era-era jadi bartender, adalah haram hukumnya buat menyentuh bir, cuma bikin perut gendut aja, dan kotor-kotorin lidah dan gigi saja!

Belakangan “warisan” (tricks) dalam interaksi dengan alkohol masih berguna. Saat dealing dengan teman-teman dari mainland China, jarang sekali yang tidak ditemani Moutai. Moutai termasuk minuman yang lumayan lah, Hasil dari destilasi sorghum, kandungan alkoholnya di kisaran 35 – 53%. Luckily umumnya pada tidak ngeh bahwa saya punya “past life” bartender. Mereka taunya saya seorang 风水先生. Kadang ada yang iseng mencoba cekokin saya Moutai terus. Luckily tidak sampai bikin saya hilang ke alertness an.

Every now and then ada pengalaman menarik dan berkesan. Ini bagi yang tidak kenal dekat saya. Saat berkaraoke, saat jamuan makan, kadang ada saja yang seakan mau melihat saya dalam sikon kurang atau tidak sadar karena pengaruh alkohol. In which saya lay low dan meminta yang bersangkutan juga menemani saya minum. Dalam etika minum, adalah very rude and un ethical kalau istilahnya 干杯 (bottom up) sendirian saja! Emangnya lagi 干杯 ke orang mati! Belakangan, yang bersangkutan malah yang ended up tergeletak. Pernah, in one occasion, seseorang sampai harus digotong keluar ruangan karaoke oleh teman-teman nya dan dibantu agar tidak terus-terusan muntah! Pasalnya yang bersangkutan memang dikenal sebagai 酒鬼 (setan alkohol). Bermula dari disela-sela jamuan sambil nyanyi, ia mengajak saya minum. Katanya mau lihat, apakah orang hong sui juga bisa bikin alkohol menjadi seimbang dan harmonis!🙃 In which saya senyam senyum in saja. Dan bilang: “saya coba yach, siapa tau bisa juga!” Dan ended nya malah si orang tersebut yang kehilangan “keseimbangan dan keharmonisan!”

Ya begitulah sebagian pengalaman in the past berinteraksi dengan beragam “minuman api” (Vodka, Gin, Port, Sherry, Whiskey, Cognac, Tawny, Tequila, Sake, Soju, Wine, Champange etc) yang kadang memberikan aneka peristiwa yang berkesan dan lucu-lucu. To date, still masih paling kagak ngeresep kalo melihat orang yang baru kenal alkohol, yang jiu liang (daya tahan terhadap alkohol) nanggung-nanggung tapi noraknya minta ampun seharam jadah! Haiya, owe malu melihat lagak begitu.😅

“All warfare is based on deception. Appear weak when you are strong, and appear strong when you are weak. If your enemy is secure at all points, be prepared for him. If he is in superior strength, evade him. If your opponent is temperamental, seek to irritate him.” – 孙子 â€” feeling thankful.

Hoisom Untuk Mengatasi Impotensi?

Oleh: Suhana Lim

T: Btw, haisom dalam TCM bermanfaat juga gak pak Suhana?

J: 海参 alias sea cucumber alias bêche-de-mer alias timun laut alias teripang atau yang (dalam komunitas Chinese) populer disebut sebagai “hoisom/haisom/haisen” adalah salah satu makanan delicacy. Umumnya adalah bagian dari sajian pada special occasions. “Hoisom po cutu” atau “hoisom dimasak bersama perut babi” adalah salah satu hidangan from yesteryears yang populer.

Kaidah bahwa makanan sehari-hari adalah juga berfungsi sebagai “obat” merupakan salah satu signature dari metode pengobatan tradisionil Chinese. Ini mengapa, hoisom pun dianggap sebagai salah satu bahan makanan yang bermanfaat untuk kesehatan.

Dalam TCM, hoisom memiliki karakteristik bersifat hangat dan asin, dan diasosiasikan dengan meridian Jantung dan Ginjal. Berguna untuk menyehatkan energi yin dan darah dalam tubuh. Karena manfaatnya bagi meridian Ginjal, maka hoisom dipakai untuk mengatasi gangguan yang berhubungan dengan organ Ginjal seperti problem anyang-anyangan (frekuensi kencing yang berlebihan) dan Erectile Disfunction (ED) alias impotensi!

Bagi yang di ba zi nya memiliki masalah (kekurangan dan atau kelebihan) di Unsur Air; maka secara general akan lebih rentan terhadap problem impotensi atau lemah syahwat. Hence perlu lebih memerhatikan kesehatan in general, specifically pada meridian Ginjal.

Kadar kalori dan lemak hoisom yang rendah, membuatnya sebagai salah satu jenis makanan yang “ramah” bagi yang takut masalah berat badan. Hoisom mengandung pula bahan antioksidan, protein tinggi. Makanan yang kaya protein bermanfaat bagi pengindap diabetes, bagi yang ada gangguan jantung, bantu menurunkan darah tinggi dan memperkuat densitas tulang.

Hoisom juga bermanfaat untuk “obat” anti jamur, anti tumor dan memperkuat daya tahan tubuh secara general.

Sebagai hewan laut, hoisom mengandung komponen penting dari jaringan-jaringan penghubung pada tulang dan tulang rawan. Ini mengapa hoisom bermanfaat bagi penderita problem arthritis, tendonitis dan persendian.

Hoisom, bermanfaat untuk mengurangi penyebaran dan pertumbuhan sel-sel kanker pada organ Liver. Ini sebab kenapa hoisom disebut-sebut juga untuk “melawan” kanker.

Segalanya memiliki dua sisi, yin dan yang. Kalau ada manfaat, maka ada pula efek sampingan negatifnya. Meski namanya “timun laut,” tapi hoisom adalah hewan laut. Hoisom tentu tidak tentu cocok bagi penderita alergi terhadap hidangan laut (seafood). Hoisom juga mengandung bahan untuk mengencerkan darah.

Kondisi air laut yang minim polusi, kedalaman laut yang memadai merupakan faktor penting yang memengaruhi kualitas hoisom yang dihasilkan. Belitung dan Makasar adalah beberapa kawasan yang masyhur akan kualitas hoisom nya. Karena pengambilan yang tidak memerhatikan kelangsungan / kesinambungan, membuat to date makin sulit mendapatkan teripang berkualitas. Hoisom dijumpai di dasar-dasar laut di berbagai belahan dunia, tapi populasi hoisom yang terbanyak ditemukan di samudera Pasifik.

Sea cucumbers telah dimanfaatkan sebagai salah satu sumber bahan makanan di Asia dan Timur Tengah. Tetapi pemanfaatannya untuk obat, dipelopori oleh bangsa Tionghoa yang telah menyelidiki dan memanfaatkannya sejak ribuan tahun silam. Dalam sistim pengobatan Western, baru beberapa puluh tahun terakhir dilakukan riset dan mengetahui bahwa ternyata the humble sea cucumber juga berguna untuk pengobatan!

Inilah contoh lain dimana banyak sekali pengetahuan Eastern yang dulunya diremehkan bahkan dicibir sebagai “hocus-pocus, non sense” belakang hari setelah kemampuan teknologi tambah maju ternyata benar adanya! Dalam kehidupan, semasa kita masih lebih muda, dimana kita kurang wawasan tetapi merasa sudah tau segala hal, kita cenderung untuk meremehkan banyak hal. Tapi belakangan sejalan dengan pengalaman kita bertambah, dan wawasan kita lebih terbuka dan banyak; maka barulah “mata” kita terbuka. Oh ternyata dunia luar adalah sangat luas ketimbang daun kelor; oalah ternyata the other side of the world adalah tak terbatas dibanding diameter batok dimana kita selama ini berada!

Having said that, tetap saja ada juga yang dari muda hingga uzur seakan tetap tidak berkembang/bertambah wawasannya; bisa karena malas menambah wawasan, enggan menerima pendapat orang, merasa diri sudah paling pintar serba tau dan atau karena sifat ndablek. Kalau sudah begini attitudenya maka adalah 没救 (mo kiu)!

May we all physically and emotionally healthy, and can enjoy a productive and happy TGIF.🙏