Kebaikan dan Ketulusan Hati yang Tersembunyi

“Finally, we met ya.” Kata Pak Suhana sambil tersenyum ramah, itulah kalimat yang mengawali perjumpaan pertama kami di kelas Mian Xiang, dimana beliau sebagai pengajarnya. Sebelumnya, kami hanya berkomunikasi melalui telepon untuk konsultasi mengenai Bazi.

Mungkin, ‘jodoh’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pengalaman privat bersama Pak Suhana Lim. Saya tidak menyangka kalau beliau begitu murah hati mau menerima undangan makan siang dari saya, di tengah-tengah jadwal beliau yang sangat padat.

Kebersamaan di mobil dan sarapan bersama merupakan momen yang bukan hanya berkesan, tetapi juga sangat berharga bagi saya dan istri. Kami berkesempatan untuk berbincang secara privat, mengenal lebih dekat, dan berbagi cerita mengenai latar belakang kami masing-masing. Kami menceritakan pengalaman tentang tantangan makanan pedas, kenangan di Taman Tirta Loka dan Taman Buaya, serta berbagi kisah tentang keluarga. Pak Suhana juga bercerita tentang kelima saudara kandungnya, namun karena keadaan pada saat itu, terpaksa harus berpisah dengan keempat saudara lainnya—sebuah pengalaman yang tentunya sangat berat bagi beliau dan keluarganya.

Dari percakapan itu, kami menemukan banyak kesamaan, meskipun beliau tinggal jauh di Australia dan saya di Indonesia. Ternyata, kami memiliki beberapa kenangan yang sama di daerah Pluit. Obrolan kami bahkan membuat istri saya lupa waktu untuk mengantar anak kami ke tempat les!

Di balik sosok fisiknya yang gagah dan daya ingatnya yang tajam, terdapat kebaikan dan ketulusan hati yang tersembunyi. Beliau mengingatkan kami akan bahayanya trauma masa kecil dan berpesan agar kami berhati2 dalam menjaga anak2 kami.

Waktu yang kami habiskan bersama sangat berharga, kami dapat saling mengenal lebih dalam, berkomunikasi dari hati, dan mendapatkan banyak nasihat tulus yang sangat bermanfaat.

Semoga sukses dan hoki selalu, Pak Suhana!

Jerswind Hwang – Jakarta
05 Mei 2025