
Pertama-tama saya atas nama pribadi dan keluarga besar mau mengucapkan terima kasih kepada Ko Suhana, yang telah mau membimbing, mengarahkan pembuatan bong pai (makam) papa mama saya di sebuah kota A di pulau Sumatera menurut kaidah feng shui yang seharusnya dan sebenarnya.
Papa saya meninggal sudah 12 tahun yang lalu dan sewaktu hidup meminta untuk dikuburkan di kampung halaman nya di kota A. Selama hidup papa saya merantau ke kota B, sampai akhir hayat. Mama saya meninggal 4 tahun yang lalu dan keduanya siangkong (suami istri kuburan bersebelahan). Niat untuk membangun bongpai papa saya sudah dari 9 tahun yang lalu, tapi berhubung tiap tahun selalu ada halangan; seperti ada yang married, ada yang hamil, jadinya ditunda sampai mama saya meninggal. Setelah covid, anggota keluarga juga ada yang hamil.
Baru pada tahun 2024 ini direncanakan untuk pembuatan bongpai papa dan mama saya. Saya sudah mengusulkan kepada ketiga adik saya untuk menggunakan fengshui kuburan agar anak cucunya bisa selamat dan tak kekurangan rejeki di kemudian hari.
Saya ada membaca sharing di grup yang menyatakan kalau kuburan itu mempengaruhi kehidupan anak laki-laki dan cucu laki laki. Tapi ketiga adik saya ngga mau menggunakan aplikasi fengshui. Akhirnya saya sendiri yang mengambil alih proses pembuatan kuburan dan saya menerapkan seluruh kaidah fengshui atas keinginan saya sendiri. Jadi yang dibagi rata ada biaya pembuatan pondasi kuburan dan bongpai saja. Selebihnya semuanya jadi tanggungan saya sendiri.
Awalnya berkonsultasi, saya pernah bertanya apakah bisa cuma bazi saya dan anak saya aja yang dianalisa disesuaikan dengan bazi papa mama saya, karena adik-adik saya belum punya bazi; dan mereka tidak setuju pakai fengshui, tapi ko Suhana tidak setuju. Kata ko Suhana, harus lakukan secara benar kalau mau menerapkan fengshui. Apalagi menyangkut fengshui untuk kuburan.
Akhirnya ko Suhana memberikan option semua tanggal lahir adik dan anak2 adik saya dicek untuk keperluan analisa fengshui kuburan, agar dalam menentukan hari pembangunan tidak ada yang merugikan satu sama lain. Saya juga memberi data ke Suhana berupa arah kuburan, kondisi di sekitar kuburan lewat video.
Setelah itu menentukan design kuburan, saya diberi design kuburan yang sudah jadi oleh pembuat bongpai dengan menunjukkan model yang sudah jadi. Berhubung tanah yang tersedia tidak terlalu lebar jadi disepakati dibuat pakai 1 tiang kiri dan kanan. Pas design ini tidak terlihat bagaimana nanti jadinya.
Untuk pemilihan batu bong pai saya juga berkonsultasi dengan Ko Suhana mengenai warna dan model. Saya ada foto beberapa warna batu yang sering digunakan untuk bong pai, yang penting kata Ko Suhana jangan warna hitam. Lucu dan membingungkan nya, justru warna hitam ini direkomendasikan kepada saya oleh yang jual batu marmer karena kelihatan bagus kalau sudah pakai tulisan emas katanya.
Mengenai masalah warna bongpai ini juga, tukang bongpai (yang ukir nama dan gambar), juga bilang warna hitam bagus, karena dia bilang banyak yang buat warna hitam. Tetapi kemudian saya menganalogikan kepada dia bahwa coba rumahnya dicat hitam, apakah dia mau, dia jawab tidak mau. Maunya yang warna terang, minimal warna putih.
Kalau bagus dan estetik, tapi tidak sesuai kaidah fengshui juga tetap akan berdampak merugikan pada anak cucu, jadinya tidak bagus juga. Akhirnya saya ikut sarannya Ko Suhana dalam menetapkan warna batu bong pai.
Setelah itu Ko Suhana yang mencarikan tanggal dan hari baik untuk memulai pembangunan bongpai, yaitu pada tanggal 5 mei jam 11 sampai 13, saya pergi ke kota A. Berhubung saya tinggal di kota B, jadi saya subuh-subuh sudah berangkat ke kota A.
Proses pembangunan kuburan dimulai setelah itu, dengan tukang memberikan foto dan video apa aja yang telah mereka kerjakan. Karena berhubungan lahan kuburan sempit karena terletak di daerah bukit, dan sudah ada kuburan orang lain di samping, di atas dan di bawah kuburan papa saya. Dalam hal ini saya banyak berkonsultasi secara konstan dengan Ko Suhana tentang halaman, tempat Tuapekong tanah dan kaidah-kaidah fengshui lainnya.
Dalam perjalanannya, ada suatu kebiasaan orang buat kuburan di sana membuat bak air penampungan di sekitar kuburan. Lalu hasil dari tukang saya update ke ko Suhana, dan Ko Suhana terkejut adanya bak air di depan bongpai. Tukang itu bilang dari dulu-dulunya sudah dibuat bak air itu, lalu saya foto kuburan lama yang sudah ada dan ternyata memang ada bak air dan ada yang pakai pipa paralon keluar dari halaman kuburan (foto terlampir). Kata Ko Suhana cara ini sangat lah tidak sesuai dengan kaidah fengshui. Akhirnya bak air itu saya minta ditimbun kembali.
Setelah bongpai jadi dan mau dipasangkan ke kuburan, saya kembali ke kota A untuk memasang bongpai, saya bertanya kepada ko Suhana apakah ada perlu tanggal penentuan untuk pemasangan bongpai, kata Ko Suhana ngga perlu, semuanya kan sudah dianggap terhitung dari tanggal pembangunan.
Dalam proses pemasangan bongpai, pagi saya datang ternyata meja untuk sembayang sudah dipasang duluan, yang seharusnya dinding bongpai yang ada, dan pada saat pemasangan bongpai nama, ternyata tidak sesuai dengan yang telah didesign sebelumnya, sehingga dindingnya dibongkar agar bongpai nama bisa masuk sejajar dengan yang lainnya. Setelah pemasangan bong pai selesai, tinggal pengerjaan finishing dan kemudian saya menanyakan kepada Ko Suhana tentang apakah perlu tanggal untuk peresmian kuburannya. Kemudian Ko Suhana memberikan logika fengshui, bahwa pada saat peletakan batu pertama itu aja cukup, kecuali jika ada yang akan masuk ke kuburan lagi, barulah perlu dicarikan tanggal baiknya. Karena ini kedua orang tua saya sudah terkubur jadi tidak perlu cari tanggal lagi, yang penting kata Ko Suhana ritual sembayang dilakukan sebelum jam 12 siang.
Akhirnya saya mencari tanggal yang semua adik-adik saya bisa datang untuk sembayang peresmian bong pai yang telah selesai dibuat.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak kepada Ko Suhana, jika tidak ada pedoman feng shui dari Ko Suhana dalam mengerjakan bong pai ini, mungkin pembuatannya akan mengikuti kuburan-kuburan yang telah ada dan yang sebenarnya adalah tidak sesuai dengan kaidah fengshui kuburan, sehingga tentunya akan berdampak kepada anak cucu dari almarhum.
Semoga pengalaman yang saya sampaikan disini menjadi perhatian teman-teman lain terkait dengan urusan kuburan. Hati-hati dalam mengikuti contoh dari kuburan-kuburan yang sudah ada, karena tidak jaminan adalah sebenarnya sudah sesuai kaidah fengshui. Pengalaman saya sebelum dan selama mengurusi bangun kuburan kedua orang tua adalah proses yang panjang berbulan-bulan, meletihkan fisik dan emosi, banyak proses dan tahapan membingungkan sekaligus mengejutkan. Untung ada Ko Suhana yang terus mendampingi saya dalam melakukan semuanya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak kepada Ko Suhana untuk semua pencerahan bimbingan serta kesabaran dalam menerangkan step by step. Sekarang saya sudah lega.
Drg Suryanto – Sumatera
30 Agustus 2024